Pelajaran 4 – Berpikir Kritis Menanggapi Generalisasi

4520
DeskripsiTranskrip

Apakah kamu pernah mendengar kalimat seperti: “orang Indonesia sangat suka makanan pedas”? Jika iya, apakah semua orang Indonesia demikian? Pernyataan di atas dapat kita golongkan sebagai generalisasi. Tanpa dasar yang kuat, pernyataan generalisasi bisa menyesatkan. Bagaimana membuat pernyataan generalisasi lebih kuat? Simak video berikut ini sampai habis.

Untuk memperdalam pembahasan yang ada di video ini, kamu bisa mengunduh diktatnya secara gratis di bawah ini.

Download Diktat Download Diktat
00:01 Selamat datang di video keempat dalam seri Latih Logika, seri kursus online gratis tentang berpikir kritis. Saya Fallissa Putri yang akan menjadi pemandu kalian kali ini.
00:13 Dalam video ketiga, kita sudah belajar tentang pengertian argumen dan ciri-cirinya. Kita juga sudah berkenalan dengan dua jenis penalaran yaitu penalaran deduktif dan induktif.
00:25 Sekarang, kita akan mulai dengan generalisasi, salah satu jenis penalaran induktif. Apa sih generalisasi itu? Jika kita mengambil kesimpulan tentang seluruh kelompok berdasarkan informasi tentang sebagian anggotanya, maka kita melakukan generalisasi.
00:43 Kelompok bisa berupa: sebuah organisasi, suatu suku bangsa, sejenis benda, atau topik tertentu. Sedangkan informasi yang dimaksud bisa berasal dari pengamatan kita sendiri terhadap sebagian anggota kelompok itu, atau dari sumber lain.
01.04 Namun, dalam generalisasi, informasi yang kita gunakan untuk menilai kelompok sebenarnya tidak lengkap, karena hanya diambil dari sebagian, bukan seluruh anggota kelompok. Karena itu, kesimpulan yang didapat dari generalisasi hanyalah sebuah dugaan, bukan pernyataan yang mutlak benar.
01.24 Contohnya, mari kita lihat tweet berikut: “Tahukah kamu? Orang Indonesia sangat suka makanan yang pedas.”

Tweet tersebut membuat kesimpulan umum tentang selera makanan sebuah kelompok, yaitu “orang Indonesia”. Mungkin si pembuat tweet sering bertemu dengan orang yang suka makanan pedas.

01.44 Mungkin juga dia banyak menjumpai menu pedas di restoran yang menjual makanan Indonesia. Tapi tidak mungkin, kan, dia sudah bertanya kepada semua orang Indonesia atau mencoba semua makanan Indonesia?
01.57 Jadi, untuk menilai sebuah generalisasi, lihatlah sebagai sebuah dugaan. Apakah dugaan ini punya dasar yang kuat? Lalu, bagaimana cara membuat generalisasi yang baik?
02.09 Pertama-tama, gunakan lebih dari satu contoh. Misalnya, Nana berkata, “Pak Bayu menolak membayar iuran sampah bulanan. Penghuni perumahan ini memang sangat kikir.”

Nana berkesimpulan bahwa seluruh penguhuni perumahan bersifat kikir hanya berdasarkan satu contoh, yaitu Pak Bayu. Karena itu, yang dilakukan Nana adalah generalisasi yang lemah.

02.31 Agar kesimpulan Nana menjadi kuat, ia harus menyebutkan lebih banyak contoh penghuni lain yang perilakunya dapat dikatakan kikir. Cara kedua, gunakan contoh yang benar-benar mewakili keseluruhan kelompok.
02.45 Lihat contoh argumen berikut:

“Sebagian besar anak kelas 12-A diterima di universitas negeri. Karena itu, tingkat keberhasilan masuk universitas negeri di sekolah ini dapat dikatakan tinggi.”

Generalisasi ini kurang kuat, karena contoh yang digunakan tidak mewakili keseluruhan siswa kelas 12 di sekolah tersebut. Bisa saja sekolah itu mengumpulkan anak-anak yang pintar di kelas 12-A, sehingga wajar jika sebagian besar diterima di universitas negeri. Jadi, kita harus mengambil contoh dari kelas-kelas lain, bukan hanya kelas 12-A saja.

03.23 Yang ketiga, waspadai informasi yang tersembunyi. Contohnya, “Dalam satu tahun terakhir, ribuan orang meninggal akibat kecelakaan bus. Karena itu, bus bukanlah alat transportasi yang aman.”

Sekilas, argumen itu tampak kuat karena angka ribuan terdengar sangat besar. Tetapi, jika kita tahu bahwa ada belasan juta orang yang menggunakan bus dengan selamat selama satu tahun terakhir, maka persepsi kita juga akan berubah.

Dengan kata lain, seharusnya argumen ini menggunakan perbandingan antara jumlah korban kecelakaan dan yang bepergian dengan selamat. Tapi, hanya satu faktor saja yang disebutkan di sini.

04.04 Cara terakhir, ujilah sebuah generalisasi dengan menemukan contoh yang berlawanan.

Contoh yang berlawanan adalah informasi yang bertentangan dengan generalisasi kita.

Walaupun bertentangan, ia tidak akan memperlemah argumen. Sebaliknya, dengan memperhitungkan contoh yang bertentangan, argumen kita justru akan menguat.

04.24 Misalnya, perhatikan contoh berikut: “Pemain sepakbola Liga Inggris digaji sangat tinggi.”

Ini adalah generalisasi yang lemah, karena kita tahu bahwa Liga Inggris terdiri dari banyak divisi, dan hanya pemain klub divisi atas saja yang digaji sangat tinggi.

Oleh karena itu, generalisasi yang lebih kuat adalah, “Umumnya, pemain sepakbola Liga Inggris digaji sangat tinggi, kecuali pemain dari klub-klub divisi bawah.”

Dengan kata “umumnya” dan “kecuali”, kita mempersempit kesimpulan kita sekaligus memperkuatnya.

04.57 Berikut rangkuman cara-cara membuat generalisasi yang kuat dan meyakinkan.

Jadi itulah pengertian generalisasi serta cara yang baik untuk membuatnya.

Di video selanjutnya, kita akan mempelajari satu jenis penalaran induktif lain, yaitu analogi. Untuk terus belajar, ketik tombol “lanjut” di bagian bawah video ini. Terima kasih telah menonton video Latih Logika!