Kesalahan Logika #1 – Sesat Pikir, Salah Fokus

4198
DeskripsiTranskrip

Seorang pemikir kritis adalah pemikir yang adil sejak dalam pikiran. Di video kali ini, kita akan berkenalan dengan kesalahan berpikir yang menghasilkan kesimpulan yang lemah atau bahkan menyesatkan. Salah satu jenisnya yaitu “salah fokus”. Kesalahan berpikir seperti ini bisa terjadi jika kita tidak menjaga objektivitas, misalnya membiarkan perasaan atau selera pribadi mempengaruhi proses bernalar. Bagaimana agar kita tidak terjerumus dalam kesalahan berpikir? Simak video ini sampai habis ya.

Untuk memperdalam pembahasan yang ada di video ini, kamu bisa mengunduh diktatnya secara gratis di bawah ini.

Download Diktat Download Diktat
00:01 Selamat datang kembali di Latih Logika, seri kursus online gratis tentang berpikir kritis! Saya Iqbal, yang akan memandu video kesembilan ini.

Sebelumnya, kita sudah mempelajari berbagai jenis argumen. Mulai video ini, kita akan berkenalan dengan kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan seseorang ketika berpikir, sehingga menghasilkan kesimpulan yang lemah atau bahkan menyesatkan.

Kesalahan dalam berpikir ini disebut “kesalahan logika”. Karena ada sangat banyak macamnya, maka kita hanya akan membahas berbagai kesalahan logika yang paling sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya seperti topik pertama kita, yaitu kesalahan logika “salah fokus”.

00:35 “Salah fokus” terjadi ketika argumen atau tanggapan yang kita buat tidak menyasar inti dari topik argumen, tapi hal lain yang sebetulnya tidak relevan.

Kesalahan ini bisa terjadi jika kita tidak objektif dan membiarkan perasaan atau asumsi pribadi mempengaruhi proses berpikir. Dalam video ini, kita akan berkenalan dengan empat macam kesalahan logika yang termasuk kategori “salah fokus”.

00:59 Kesalahan pertama adalah “ad hominem” atau salah fokus terhadap aspek pribadi seseorang. Misalnya, menyerang latar belakang, kondisi fisik, atau kepercayaan pembuat argumen, bukan isi dari argumen itu sendiri.

Contohnya, lihat pernyataan Singgih berikut ini:

“Saya tidak percaya argumen Jihan tentang kriteria ketua OSIS yang baik, karena sebagai anak kelas sepuluh ia masih terlalu muda untuk membicarakan kepemimpinan.”

Penolakan Singgih adalah contoh kesalahan ad hominem, karena ia tidak menyebut apa argumen Jihan sama sekali. Ia hanya menyebut status Jihan sebagai anak kelas sepuluh.

Padahal, kualitas argumen seseorang tidak ditentukan dari usia atau status senior-junior. Karena itu, Singgih seharusnya mengkritisi isi argumen Jihan, bukan semata-mata menepisnya hanya karena Jihan lebih muda.

01:51 Kesalahan kedua terjadi jika kita fokus bukan pada inti argumen, tapi pada asosiasinya dengan sesuatu yang tidak kita sukai. Misalnya, Oscar membaca berita bahwa pemerintah ingin menggalakkan program Keluarga Berencana untuk mengurangi angka kelahiran. Lalu, ia berkata, “Pengurangan angka kelahiran banyak dilakukan oleh negara komunis. Indonesia bukan negara komunis, jadi saya menentang Keluarga Berencana.”

Argumen Oscar tidak menjelaskan kenapa pengurangan angka kelahiran itu buruk. Tapi, karena ia tidak suka komunisme, ia menganggap bahwa semua hal yang memiliki persamaan dengan komunisme pasti tidak baik. Padahal, bisa saja tujuan dan cara mengurangi angka kelahiran berbeda-beda di setiap tempat, bukan?

02:36 Kesalahan ketiga terjadi jika kita salah fokus ke perilaku pembuat argumen yang tidak sesuai dengan isi argumennya. Istilah populernya “tu quoque”.

Contohnya, Karina menjelaskan pada Nanang mengapa kita sebaiknya membawa tas belanja sendiri daripada menggunakan kantong plastik. Namun, Nanang menyanggah Karina dengan berkata, “Ah, kamu juga sering belanja pakai kantong plastik.”

Memang benar bahwa perkataan Karina belum selaras dengan perbuatannya. Namun, hal itu tidak berhubungan secara langsung dengan kuat tidaknya argumen Karina tentang membawa tas belanja.

03:12 Jenis salah fokus terakhir di video ini adalah fokus ke pendapat mayoritas. Kesalahan ini mirip dengan mengutip tokoh, namun yang dikutip bukanlah pendapat orang, melainkan masyarakat. Kita pasti pernah kan mendengar pembenaran, “Ah, semua orang juga begitu,” ketika seseorang dikritik? Padahal, kuat-lemahnya argumen tidak ditentukan dari berapa banyak orang yang setuju, kuat lemahnya argumen ditentukan premis-premis dan kesimpulan argumen itu sendiri.

Contohnya, “Pengguna deterjen Superbersih paling banyak dibandingkan merek lain di Indonesia. Superbersih memang yang terbaik.”

“8 dari 10 perempuan memilih sabun Jelita. Percayakan perawatan kulitmu pada Jelita.”

Hanya karena satu merek paling banyak digunakan, bukan berarti merek itu yang terbaik. Sebagai konsumen yang cerdas, kita tidak boleh begitu saja percaya iklan.

04:02 Di zaman internet ini, kita bisa dengan mudah mencari apa kata orang tentang sebuah produk. Kita juga bisa membandingkannya dengan produk-produk lain. Sehingga, kita bisa membuat keputusan rasional tentang produk dan merek apa yang sebaiknya kita beli. Demikian macam-macam kesalahan logika dalam kategori “salah fokus” yang paling sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
04:24 Ingat, seorang pemikir kritis adalah pemikir yang adil sejak dalam pikiran. Berarti, kita harus objektif bukan hanya ketika memeriksa pemikiran orang lain, namun juga dalam memeriksa pemikiran kita sendiri.

Berikutnya, kita akan mempelajari kesalahan “lompatan logika”. Terima kasih telah menyimak video kesembilan Latih Logika! Klik tombol di bawah ini untuk terus belajar.