Pelajaran 5 – Berpikir Kritis Menanggapi Analogi

3654
DeskripsiTranskrip

Bagaimana kita menjelaskan sesuatu ke orang lain yang belum mengerti? Di video kali ini, kamu akan belajar salah satu jenis penalaran induktif lain: Analogi.

Untuk memperdalam pembahasan yang ada di video ini, kamu bisa mengunduh diktatnya secara gratis di bawah ini.

Download Diktat Download Diktat
00:01 Halo, selamat datang kembali di Latih Logika! Seri kursus online gratis, tentang berpikir kritis. Saya Andhyta, yang akan memandu video kelima ini.

Di video sebelumnya, kita mempelajari generalisasi — salah satu jenis penalaran induktif. Kali ini, kita akan berkenalan dengan penalaran induktif lainnya yaitu analogi.

00:24 Analogi adalah penggunaan contoh yang memiliki kemiripan dengan topik yang kita bicarakan. Jika ada kata-kata yang menunjukkan kesamaan antara dua hal, misalnya “seperti”, “bagaikan”, “ibarat”, dan sebagainya, kemungkinan argumen tersebut menggunakan analogi.
00:46 Analogi sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari.Dengan analogi kita bisa menjelaskan suatu hal ke orang yang belum mengerti. Misalnya, Siska ingin membuat adiknya yang baru masuk SD paham kenapa menyontek itu tidak baik.

Siska berkata, “Kita tidak boleh menyontek karena penyontek itu seperti pencuri. Ia mengambil milik orang lain diam-diam, ia pakai untuk diri sendiri, tapi pemilik aslinya tidak dapat apa-apa.”

01:18 Argumen Siska tadi menganalogikan perbuatan menyontek sebagai pencurian untuk menjelaskan mengapa menyontek adalah perbuatan buruk. Jika Siska menerangkan bahwa menyontek bertentangan dengan tujuan pendidikan, tentu adiknya tidak akan mengerti. Tapi, anak yang baru masuk SD akan lebih mudah memahami kenapa mencuri itu tidak baik.
01:44 Untuk membuat analogi yang baik dan mudah dipahami, mari kita simak langkah-langkah berikut:

Pertama, contoh yang digunakan harus sesuai fakta. Pada dasarnya, contoh adalah premis dari sebuah argumen. Agar kesimpulan argumen kuat, maka premis harus benar atau sesuai fakta.

02:08 Banyak orang memakai peribahasa atau dongeng sebagai contoh dalam analogi, misalnya:

“Kita harus tabah jika ditindas orang lain. Ketabahan akan berbuah baik, seperti Bawang Putih yang menerima mukjizat karena selalu sabar walau dizalimi Bawang Merah dan ibu tirinya.”

Analogi ini lemah, karena cerita Bawang Putih Bawang Merah tidak benar-benar terjadi.

Akibatnya, kita sulit percaya bahwa ketabahan akan betul-betul akan berbuah baik.

02:40 Kedua, pastikan contoh kita punya cukup banyak kemiripan dengan topik yang kita bicarakan. Contoh tidak harus sama persis dengan topik argumen. Lihat kembali argumen Siska yang menganalogikan penyontek sebagai pencuri. Orang yang menyontek mengambil hasil pemikiran orang lain, sedangkan pencuri mengambil benda fisik. Tapi, keduanya sama-sama mengambil milik orang lain untuk kepentingan sendiri. Karena itu, analogi Siska bisa dibilang cukup kuat.
03:13 Bandingkan dengan contoh berikut:

“Makanan itu seperti bahan bakar. Tanpa makanan, tubuh kita tidak bisa beraktivitas.”

Analogi ini sangat populer. Padahal, ini analogi yang lemah, karena terlalu banyak perbedaan antara fungsi makanan untuk tubuh manusia dan fungsi bahan bakar untuk mesin.

Makanan tidak hanya berpengaruh terhadap energi tubuh. Makanan juga bisa mempengaruhi berat badan, kesehatan, bahkan hormon — sehingga berdampak pada emosi.

Semakin banyak perbedaan antara dua hal yang dibandingkan, semakin lemah pula analogi kita.

03:53 Itu tadi dua langkah yang harus kita perhatikan sebelum membuat atau memeriksa sebuah analogi.

Perlu diingat satu analogi hanya berlaku sebagai satu premis saja. Jadi, hati-hati terhadap argumen yang hanya menggunakan satu analogi saja, namun tidak didukung oleh premis yang lain.

Terima kasih sudah menyimak video kelima Latih Logika! Berikutnya,

kita akan belajar cara mengutip pendapat tokoh untuk memperkuat argumen. Klik tombol “lanjut” di bawah ini untuk terus belajar.