Pelajaran 6 – Menanggapi Kutipan Tokoh Atau Pakar

3066
DeskripsiTranskrip

Saat kamu memberi argumen namun kamu tidak mendalami topik dalam premis yang digunakan… Inilah saatnya kamu “meminjam” pendapat dari tokoh atau pakar tertentu. Akan tetapi, tidak sembarang kutipan bisa mendukung argumen kita. Di video ini, kamu akan belajar syarat-syarat yang harus dipenuhi ketika mengutip pendapat seorang tokoh.

Untuk memperdalam pembahasan yang ada di video ini, kamu bisa mengunduh diktatnya secara gratis di bawah ini.

Download Diktat Download Diktat
00:01 Selamat datang di video keenam Latih Logika, seri kursus online untuk berpikir kritis. Saya Andrea yang akan memandu video ini. Di video sebelumnya, kita belajar tentang analogi alias perumpamaan.

Mungkin kita dengar orang yang mengutip pendapat tokoh atau ahli saat menyusun argumen? Nah, sekarang kita akan membahas topik ini.

00:24 Kita harus menggunakan premis untuk mendukung kesimpulan kita. Namun mungkin kita tidak mendalami topik dalam premis tersebut. Saat inilah kita biasanya merasa perlu “meminjam” perkataan seorang tokoh atau pakar. Misalnya, Eko ingin meyakinkan Cici bahwa lelap tidaknya tidur seseorang berpengaruh terhadap kemampuannya menyerap pelajaran di sekolah.
00:47 Eko dan Cici sama-sama siswa SMA biasa. Jika Eko hanya mengandalkan pengetahuannya saja, Cici mungkin akan bertanya-tanya, “Dari mana Eko tahu tentang dampak kualitas tidur terhadap kemampuan belajar?”

Agar Cici percaya padanya, Eko memasukkan pendapat seorang pakar kesehatan dan peneliti di bidang tidur ke dalam argumennya.

Bunyinya seperti ini: “Menurut Dr. Charles Czeisler, kepala divisi Kesehatan Tidur di Sekolah Kedokteran Harvard, jam tidur yang tidak teratur mengurangi kemampuan otak mengolah informasi. Berarti, kamu harus menjaga pola tidur supaya bisa menyerap pelajaran dengan baik di sekolah. Pendapat Dr. Czeisler bisa jadi membuat argumen Eko lebih kuat daripada jika ia hanya menggunakan pengetahuannya sendiri. Dengan mengutip si pakar, kemungkinan Cici mempercayainya juga akan lebih besar. Akan tetapi, tidak sembarang kutipan bisa mendukung argumen kita.

01:44 Beberapa syarat berikut harus kita penuhi ketika mengutip pendapat seorang tokoh. Pertama, kutiplah pendapat tokoh dari bidang yang sesuai dengan topik argumen. Seseorang yang terpandang belum tentu mempunyai keahlian di bidang yang kita bicarakan. Mari kita lihat contoh sebelumnya. Argumen Eko adalah tentang dampak kualitas tidur terhadap kemampuan menanggapi informasi.

Maka, yang cocok untuk ia kutip adalah orang yang memiliki keahlian di bidang kesehatan atau psikologi, seperti dokter atau peneliti.

Lebih baik lagi jika ia memiliki keahlian yang relevan, seperti dr. Czeisler yang sudah melakukan banyak penelitian yang berhubungan dengan tidur.

02:27 Bandingkan dengan argumen berikut: “Bill Gates berkata bahwa tidur itu penting untuk menjaga ketajaman pikiran. Karena itu, kita harus mengatur pola tidur agar dapat belajar dengan baik di sekolah.”

Sekilas, argumen ini nampak meyakinkan karena Bill Gates, pendiri Microsoft, adalah orang yang sangat sukses dan terkenal di seluruh dunia. Namun, ia bukanlah pakar di bidang kesehatan dan tidur. Karena itu, pendapatnya tidak relevan untuk mendukung argumen tentang dampak kualitas tidur.

03:00 Syarat kedua, kita harus menyebutkan kualifikasi tokoh dengan lengkap. Kualifikasi menunjukkan keahlian seseorang di bidang tertentu. Dalam argumennya, Eko menyebutkan bahwa Charles Czeisler adalah seorang dokter sekaligus kepala divisi Kesehatan Tidur di Sekolah Kedokteran Harvard. Jabatan inilah yang meyakinkan Cici bahwa ia dapat mempercayai pendapat Dr. Czeisler.

Jika Eko hanya mengatakan, “Menurut Charles Czeisler, ….” besar kemungkinan Cici tetap tidak akan mempercayainya, karena ia tidak tahu siapa itu Charles Czeisler.

03:36 Ketiga, kutiplah tokoh yang tidak berpihak. Terkadang, pendapat seseorang bisa jadi meragukan, walaupun bidang keahliannya relevan dan kualifikasinya sudah disebutkan. Ini terjadi ketika latar belakang tokoh tersebut membuat kita curiga bahwa ia memiliki motif tertentu di baliknya.

Contohnya, menurut Dr. Cho Sungsoo dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas California, Berkeley, orang yang sarapan dengan sereal cenderung memiliki berat badan yang ideal.

Sekilas, dari segi keahlian dan kualifikasi, kita bisa mempercayai pendapat Dr. Cho. Namun, jika kita teliti latar belakangnya, kita akan tahu bahwa penelitian itu dibiayai oleh salah satu produsen sereal terbesar di dunia. Dr. Cho belum tentu berbohong. Namun, penelitiannya dibiayai oleh perusahaan yang bisa saja menggunakan hasil riset ini untuk promosi. Karena itu, kutipan ini bukan dukungan yang kuat untuk sebuah argumen.

04:35 Keempat, kita harus memeriksa pendapat tokoh lain. Satu bidang tidak hanya memiliki satu-dua pakar yang berpengaruh, dan pakar-pakar ini sering memiliki pendapat yang berbeda, bahkan bertentangan. Secara umum, semakin banyak pakar dengan reputasi baik yang sependapat, biasanya aman bagi kita untuk mengutip pendapat tersebut.
04:57 Terakhir, kita harus mewaspadai kutipan yang berasal dari internet. Ingat, siapa pun bisa menulis di internet. Karena itu, kita tidak bisa langsung mempercayai apa yang tertulis di situs web. Sebelum menggunakan sebuah kutipan yang kita temui di sebuah situs web, kita harus menanyakan hal-hal berikut:

Siapa yang membuat situs tersebut? Untuk tujuan apa situs tersebut dibuat? Apakah pembuat situs memiliki kualifikasi yang sesuai? Jika jawaban yang kita dapatkan tidak memuaskan, maka kita bisa meragukan kutipan yang kita dapatkan di situs tersebut.

Sehingga, kita perlu mencari sumber kutipan lain. Itulah dia syarat-syarat yang harus kita penuhi sebelum memasukkan pendapat seorang tokoh ke dalam argumen kita.

05:43 Kita juga bisa menilai apakah argumen orang lain yang menggunakan kutipan tokoh sudah kuat atau belum dengan memeriksa apa ia sudah memenuhi syarat-syarat di atas. Agar dapat mengutip tokoh dengan benar, kita memang memerlukan riset atau persiapan. Tetapi, jika kita banyak membaca buku atau belajar dari sumber lain, kita bisa menggunakan kutipan yang sudah kita ingat — kapan saja.
06:08 Terima kasih telah menyimak video keenam Latih Logika. Berikutnya, kita akan bahas argumen sebab akibat. Klik tombol “lanjut” untuk terus belajar!