Pelajaran 8 – Macam-macam Argumen Deduktif

3701
DeskripsiTranskrip

Video sebelumnya kita telah membahas berbagai macam argumen deduktif seperti generalisasi, analogi, argumen mengutip tokoh, hingga korelasi dan sebab-akibat. Dalam video kali ini, kita akan belajar jenis-jenis argumen deduktif lebih jauh.

Untuk memperdalam pembahasan yang ada di video ini, kamu bisa mengunduh diktatnya secara gratis di bawah ini.

Download Diktat Download Diktat
00:01 Halo, selamat datang di video kedelapan Latih Logika, kursus online gratis tentang berpikir kritis! Saya Andrea yang akan jadi pemandu kali ini.

Dari video empat sampai tujuh, kita belajar tentang macam-macam argumen induktif. Mulai dari generalisasi, analogi, argumen mengutip tokoh, sampai korelasi dan sebab-akibat.

Sekarang kita akan bahas argumen deduktif dan beberapa jenisnya.

00:27 Masih ingat kan argumen deduktif?

Dalam argumen deduktif, jika semua premis benar, maka kesimpulannya pasti benar juga. Sebaliknya, jika kesimpulan benar, maka tidak mungkin ada premis yang salah. Perhatikan contoh argumen deduktif ini:

Semua hewan menyusui bernapas dengan paru-paru. Paus adalah hewan menyusui. Paus bernapas dengan paru-paru. Jika kita percaya semua hewan menyusui bernapas dengan paru-paru adalah fakta, dan jika kita percaya bahwa paus hewan menyusui, maka kesimpulan “paus bernapas dengan paru-paru” pasti benar.

01:06 Sebaliknya, jika kita menerima kesimpulan paus sebagai hewan menyusui bernapas dengan paru-paru, kita tidak bisa menyangkal premis “paus adalah hewan menyusui” atau “semua hewan menyusui bernapas dengan paru-paru”.
01:20 Ada empat macam argumen deduktif yang kita bahas di video ini. Yang pertama adalah modus ponens yang berarti “penegasan”. Modus ponens dapat dirumuskan sebagai berikut.

Jika p, maka q.

p. jadi, q.

Contohnya seperti ini:

Jika hujan turun, maka jalanan basah. Hujan turun. Jadi, jalanan basah.

Kesimpulan argumen tadi, yaitu “jalanan basah”, sudah terdapat dalam premis pertama.

Karena itulah bentuk argumen ini disebut penegasan, karena ia hanya menekankan apa yang sudah ada.

Tapi, kita harus berhati-hati karena banyak orang terjebak membuat kesimpulan yang terbalik. Contohnya: Jika hujan turun, maka jalanan basah.

Jalanan basah. Jadi, hujan turun.

Argumen ini tidak sahih atau tidak bisa diterima. Jalanan basah belum tentu disebabkan oleh hujan. Bisa karena ada yang menyiramnya, atau karena hal lain. Dengan kata lain, walaupun “jika p maka q” benar, belum tentu “jika q maka p” juga benar. Jenis argumen deduktif yang kedua adalah modus tollens, yang berarti “penyangkalan”.

02:35 Rumusnya seperti ini: Jika p maka q.

Bukan q. Jadi, bukan p.

Contohnya: Jika ada api, maka ada asap. Tidak ada asap. Jadi, tidak ada api.

Premis kedua dan kesimpulan argumen tadi bersifat menyangkal premis pertama. Karena itulah bentuk argumen ini disebut penyangkalan. Sama seperti modus ponens, kita juga tidak boleh membalik modus tollens.

Coba kita balik contoh tadi: Jika ada api, maka ada asap.

Tidak ada api. Jadi, tidak ada asap.

Argumen di atas tidak sahih karena menyiratkan bahwa asap tidak mungkin muncul tanpa api. Padahal, bisa saja asap muncul dari air mendidih atau barang elektronik yang korslet.

03:27 Jenis argumen deduktif yang ketiga adalah silogisme hipotetik. Silogisme adalah proses pembuatan kesimpulan secara deduktif dari dua kalimat atau lebih. Silogisme hipotetik adalah proses pembuatan kesimpulan dari premis-premis yang berupa kemungkinan. Kesimpulan yang dihasilkan oleh metode ini disebut juga hipotesis.
03:49 Begini rumusnya:

Jika p = q, dan q = r, maka p = r.

Contohnya:

Jika Susi rajin belajar, nilainya akan bagus.

Dan jika nilai Susi bagus, ia bisa mendapat beasiswa. Maka, jika Susi rajin belajar, ia bisa mendapat beasiswa. Jenis argumen deduktif yang terakhir adalah silogisme disjungtif. Kata “disjungtif” berarti “memisahkan” atau “membedakan”. Jadi, kesimpulan silogisme ini memilih satu premis dan membuang premis lainnya.

04:26 Rumusnya seperti ini: p atau q. Bukan p.

Maka, q.

Dan begini contohnya: Siska selalu berangkat ke sekolah naik kendaraan umum atau diantar Ayah. Hari ini Siska tidak naik kendaraan umum.

Jadi, Siska diantar oleh Ayah.

Karena inti dari silogisme disjungtif adalah memilih salah satu premis, maka kesimpulannya bisa dipertukarkan. Misalnya, jika Siska tidak diantar oleh Ayah, maka Siska naik kendaraan umum.

05:00 Itulah jenis-jenis argumen deduktif yang paling dasar. Walaupun tampak sederhana, kalau kita terus berlatih, kita dapat membuat kesimpulan dari lebih banyak fakta. Contohnya, lihat diktat yang tersedia di sini untuk mengetahui bagaimana Sherlock Holmes menggunakan argumen deduktif untuk memecahkan kasus.

Terima kasih telah menyimak video ini.

Berikutnya, kita akan gali kesalahan-kesalahan logika yang tanpa sadar sering kita lakukan. Klik tombol di bawah ini untuk lanjut ke video sembilan Latih Logika.